palembang

Apakah Anda mengenal karakteristik masyarakat Melayu Palembang? Melayu Palembang adalah sekelompok masyarakat Melayu yang hidup di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Dalam kesehariannya, masyarakat ini memakai bahasa Palembang atau disebut Basa Palembang Sari-sari.

Masyarakat Melayu Palembang terdiri atas berbagai kaum kerabat. Berikut ini kaum kerabat dari masyarakat tersebut.

  • Kaum kerabat Ogan
  • Kaum kerabat Lubai
  • Kaum kerabat Rambang
  • Kaum kerabat Cambai
  • Kaum kerabat Pegagan
  • Kaum kerabat Lembak
  • Kaum kerabat Lintang
  • Kaum kerabat Kikim
  • Kaum kerabat Gumay
  • Kaum kerabat Pasemah
  • Kaum kerabat Enim
  • Kaum kerabat Semende
  • Kaum kerabat Kisam
  • Kaum kerabat Lematang

Mengenal Masyarakat Melayu Palembang

Secara garis besar, suku Palembang terdiri atas dua kelompok yang berbeda strata sosialnya. Pertama adalah kelompok Wong Jero, yaitu keturunan bangsawan atau hartawan yang statusnya setingkat lebih bawah dari orang-orang di istana kerajaan Palembang. Kedua adalah kelompok Wong Jabo atau rakyat biasa.

Pada awalnya, banyak pendapat yang mengatakan bahwa suku Palembang merupakan hasil peleburan dari beberapa suku seperti Arab, Cina, dan Melayu. Suku-suku ini sudah berabad-abad bermigrasi ke Palembang dan hidup berdampingan dengan warga lokal sekian lama. Bahkan, selama kurun waktu tersebut, terjadi perkawinan campur antara suku asli dengan suku pendatang tersebut.

Nah, dari ketiga suku bangsa (Arab, Cina, dan Melayu) inilah lahir sebuah etnik bernama suku Palembang yang mempunyai kebudayaan dan adat-istiadat tersendiri. Tapi, sebagian masyarakat Palembang tidak sependapat dengan hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa jauh sebelum datangnya bangsa Arab, Cina, dan Melayu, suku Palembang telah berkembang di Palembang dan merupakan pernghuni pertama wilayah tersebut. Jadi, suku Palembang adalah suku asli dari Palembang dan sebuah komunitas adat tersendiri, bukan campuran beberapa suku bangsa.

Tak dapat dipungkiri bahwa perkawinan campur antara suku Palembang dan sejumlah suku bangsa pendatang memang pernah terjadi. Namun, suku-suku bangsa pendatang tersebutlah yang justru masuk ke dalam kebudayaan serta adat istiadat suku Palembang.

Keseharian Masyarakat Melayu Palembang

Dalam kesehariannya, suku Palembang berkomunikasi dalam bahasa Palembang. Bahasa ini dikategorikan sebagai bahasa Melayu atau lebih dikenal dengan sebutan bahasa Melayu Palembang. Bahasa ini terdiri atas dua dialek, yaitu baso Palembang alus dan baso Palembang sari-sari. Bahasa ini hampir mirip dengan bahasa-bahasa Melayu lainnya seperti bahasa Melayu Riau dan bahasa Melayu Malaysia. Hal yang membedakan bahasa ini dengan bahasa Melayu lainnya adalah penggunaan dialek “o”.

Sementara itu, sebagian besar masyarakat Melayu Palembang lebih suka tinggal di rumah yang beridiri di atas permukaan air. Rumah Limas yang berupa rumah panggung dan banyak dijumpai di pinggiran Sungai Musi adalah rumah adat Palembang yang paling terkenal.
Lalu, bagaimana dengan makanan khas suku Palembang? Masyarakat Melayu di Palembang terkenal ahli membuat makanan. Pempek, lenggang, dan tekwan adalah beberapa makanan khas buatan orang Palembang. Dari semua jenis kuliner asli Palembang, pempek adalah yang paling terkenal.

Ciri khas lainnya dari masyarakat Palembang yaitu mempunyai tradisi yang sudah dilakukan selama berabad-abad sebagai pedagang. Ya, banyak masyarakat Palembang yang berdagang di atas perahu di sepanjang aliran Sungai Musi. Selain itu, banyak juga orang Palembang yang sukses menduduki sektor penting di pemerintahan, menjadi artis, bekerja di sektor swasta, dan lain sebagainya.

Bahasa Masyarakat Melayu Palembang

Saat ini, Baso Palembang Alus (Babaso) sebagai salah satu kekayaan asli budaya Palembang dan sebagai jati diri Wong Kito (Melayu-Palembang) sudah hampir punah. Oleh sebab itulah, dibutuhkan berbagai upaya untuk melestarikan dan mendokumentasikannya, salah satu caranya adalah dengan mengadakan kursus atau membuat buku kamus bahasa Palembang.

Sebenarnya, Baso Palembang Alus hampir sama dengan bahasa Jawa sehingga sebagian masyarakat beranggapan bahwa bahasa Palembang itu berasal dari bahasa Jawa. Anggapan tersebut tidaklah benar sebab bahasa Palembang berasal dari bahasa Melayu Tua yang menyatu dengan bahasa Jawa dan pengucapannya disesuaikan berdasarkan dialek atau logat orang Palembang.

Seiring perkembangannya, bahasa ini dipengaruhi juga oleh bahasa Arab, Cina, Portugis, Belanda, Inggris, Urdu, dan Persia. Sementara itu, aksara bahasa Melayu orang Palembang memakai aksara Arab (Arab Melayu) atau tulisan Arab berbahasa Melayu (Arab pagon/gundul). 

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa bahasa Palembang itu terdiri atas dua jenis. Pertama, bahasa sehari-hari yang dipakai oleh hampir semua orang di Palembang atau biasa dikenal dengan bahasa pasaran. Kedua, bahasa halus yang dipakai oleh kalangan tertentu atau disebut bahasa resmi Kesultanan.

Jenis bahasa yang kedua ini biasanya digunakan oleh dan untuk orang-orang yang dihormati ataupun mereka yang berusia lebih tua. Misalnya, anak kepada orangtua, murid kepada guru, menantu kepada mertua, dan antarpenutur yang selevel dengan tujuan saling menghormati. Penggunaan bahasa yang bersifat sopan ini sesuai dengan arti dari bebaso, yaitu ‘berbahasa sopan dan halus’.

Bahasa asli Palembang dapat dikatakan sebagai bahasa daerah yang mudah dipelajari dibandingkan bahasa-bahasa daerah lainnya. Untuk bahasa pasaran yang digunakan sehari-hari, hanya gayanya yang sedikit berbeda dengan bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Palembang, sebagian besar huruf A di akhir sebuah kata dalam bahasa Indonesia diganti dengan huruf O. Misalnya, apa menjadi apo, nama menjadi namo, dan lain sebagainya. Mudah, bukan? Itulah sebabnya para pendatang yang tinggal di Kota Palembang akan dengan mudah mempelajari dan menggunakan bahasa Palembang sehari-hari untuk berkomunikasi.

Seni dan Budaya Masyarakat Melayu Palembang

Palembang dikenal sebagai kota multibudaya sebab banyak para pendatang yang memasuki wilayah ini dan tak terlepas dari sejarah tua Palembang itu sendiri. Kesenian-kesenian yang dimiliki oleh masyarakat Melayu asli Palembang adalah sebagai berikut.

  • Kesenian Dul Muluk, yaitu sebuah pentas drama tradisional khas dari Palembang.
  • Gending Sriwijaya, yaitu tarian yang dimainkan untuk menyambut para tamu.
  • Tari Tanggai, yaitu tarian yang dimainkan dalam sebuah acara resepsi pernikahan.
  • Syarofal Anam, yaitu kesenian Islami yang diperkenalkan oleh para saudagar Arab. Kesenian Islami ini menjadi populer di Kota Palembang karena diperkenalkan oleh KH. M. Akib, S. Abdullah bin Alwi Jamalullail, dan Ki Kemas H. Umar.
  • Lagu-lagu daerah seperti Ribang Kemambang, Dek Sangke, Melati Karangan, Dirut, danCuk Mak Ilang.
  • Rumah Limas dan Rumah Rakit, yaitu rumah adat khas Palembang.

Selain itu, masyarakat Palembang juga memiliki kain songket yang merupakan salah satu jenis tekstil terbaik di dunia. Ya, kain songket Palembang yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya ini dikenal sebagai ratunya kain. Sampai saat ini, songket masih dibuat dengan cara ditenun manual dan memakai alat tenun tradisional.  

Selain songket, masyarakat Melayu di Palembang pun kini sedang mengembangkan jenis tekstil baru, yaitu batik Palembang. Batik asli dari Palembang ini berbeda dengan batikdari Jawa sebab terlihat lebih ceria dengan warna-warna terang dan masih tetap mempertahankan motif-motif tradisional.

referensi : http://blogalakadar.blogspot.com/2014/04/orang-palembang-suku-asli-palembang.html

Iklan

Tradisi Buang Jong yang Menghanyutkan Perahu

Tradisi menghanyutkan perahu-perahuan itu disebut Buang Jong. Jong  artinya perahu. Tradisi ini dilaku

kan oleh suku sawang. Dulunya, suku sawang tinggal terapung-apung di atas perahu mereka di laut. Sekarang mereka sudah terbiasa tinggal di darat, yaitu di Belitung.

Menjelang Angin Musim Barat Bertiup

Angin Musim Barat bertiup antara bulan Agustus-November.Saat itu, cuaca menjadi buruk, angin kencang beritup, ombak tinggi menghujam.Karena itulah, Suku Sawang melaksanakan tradisi Buang Jong .

Yap, mereka, kan, amat tergantung pada laut. Kalau lautnya tidaktenang, bagaimana mereka bisa melaut dengan aman?

Mereka percaya tradisi ini bisa menenangkan dewa penguasalautan dan dengan tradisi ini, mereka memohon keselamatan dari dewa laut itu.Jadi, perahunya memang sengaja dihanyutkan.

Bukan Sembarang Jong

Menghanyutkan perahu itu tidak semudah anak-anak membuatperahu kertas lalu menghanyutkannya.

Pertama, jong -nya atau perahunya harus dibuat dulu.Kayu yang dipakai adalah kayu jeruk atau bambu. Perahu itu diisi rumah-rumahan,nahkoda-nahkodaan, serta berbagai macam kue. Ya, jong  ini tak ubahnyasesaji untuk dewa penguasa laut.

Berbagai Upacara

Tradisi Buang Jong ini berlangsung selama dua hari. Diawalidengan upacara berasik , saat pemuka adat membaca doa, memanggil makhluk halus. Setelah itu, berbagai tarian tradisional ditarikan.

Puncak acaranya, tentu saja menghanyutkan jong  atauperahu-perahuan yang sudah dibuat.

referensi : http://www.kidnesia.com/Kidnesia2014/Indonesiaku/Teropong-Daerah/Kepulauan-Bangka-Belitung/Seni-Budaya/Tradisi-Buang-Jong-yang-Menghanyutkan-Perahu

Apresiasi terhadap seni budaya dan tradisi lokal yang bernafaskan Islam

Seni budaya dan tradisi lokal yang bernafaskan Islam sangat banyak dan memiliki manfaat terhadap penyebaran agama Islam. Untuk itulah sebagai generasi Islam, maka kamu harus mampu mengapresiasikan diri terhadap permasalahan tersebut. Bentuk dari apresiasi terhadap seni budaya dan tradisi tersebut adalah dengan merawat, melestarikan, mengembangkan, simpati dan menghargai secara tulus atas hasil karya para pendahulu.

Pada zaman sekarang, ada sebagian kelompok umat Islam yang mengharamkan dan yang membolehkan seni budaya dan tradisi yang ada. Mereka mengharamkan karena pada zaman Rasulullah saw tidak pernah diajarkan seni dan tradisi tersebut. Yang membolehkan dengan dasar bahwa semua tersebut adalah sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam. Sebagai generasi Islam, kamu harus mampu mensikapi secara bijaksana dan penuh toleransi.

Para ulama’ dan wali pada zaman dahulu bukanlah manusia yang bodoh dan tidak tahu hukum agama. Mereka mampu menerjemahkan pesan Islam ke dalam seni budaya dan tradisi yang ada pada masyarakat Indonesia. Sehingga dengan mudah praktek keagamaan umat Islam dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Untuk itulah perlu adanya pemahaman secara bersama, bahwa seni budaya dan tradisi tidak harus diharamkan secara total karena memang mengandung nilai-nilai keislaman.

Umat Islam adalah umat yang tidak hanya memikirkan urusan akherat, tetapi juga memikirkan kehidupan dunia. Kehidupan di dunia tidak hanya kebutuhan yang bersifat fisik. Manusia juga membutuhkan sentuhan-sentuhan rohani dan kebutuhan tersebut bisa melalui musik atau seni. Karena seni yang baik mengandung keindahan.

Tradisi lokal juga ada yang baik dan yang buruk. Tradisi yang baik kita pelihara sehingga menjadi warisan budaya nasional. Dan tradisi yang buruk dibuang agar tidak ditiru oleh generasi berikutnya. Kamu bisa memperhatikan bentuk paduan antara budaya lokal dan budaya Islam berikut ini.

  1. Pernikahan

Pelaksanaan acara akad nikah atau ijab qabul biasanya diselenggarakan dengan syariat Islam. Tetapi dalam upacara pernikahan atau resepsi menggunakan budaya jawa. Sebagaimana bisa kamu lihat, ketika ada pengantin perempuan sebelum akad nikah diadakan siraman kembang setaman, kemudian dalam rumah untuk resepsi ada hiasan dekorasi yang berisi bunga-bunga. Didepan gapura juga ada janur kuning dan lain sebagainya.

Kamu tidak perlu khawatir hal itu meninggalkan syariat agama Islam. Kamu dapat mencari nilai filosofi yang ada dalam simbol-simbol jawa tersebut. Siraman kembang setaman artinya supaya wanita yang akan menikah mandi taubat dengan bunga, bunga dilambangkan sebagai kesucian dan harum, jadi wanita yang hendak menikah benar-benar dalam keadaan suci dan harum ketika hendak ijab kabul. Sedangkan dekorasi bunga-bunga adalah wujud dari kasih sayang sepasang pengantin, bunga sebagai perlambang bahwa pernikahan adalah kebahagiaan suami dan istri. Untuk janur kuning yang dipasang di depan rumah adalah dengan tujuan agar acara resepsi mendapatkan cahaya barakah dari Allah swt. Janur berasal dari lafadz bahasa arabja a nurun artinya telah datang cahaya. Dan masih banyak lagi adat-adat yang perlu kalian ketahui dan mengambil hikmah dari sana.  Demikian simbol-simbol yang perlu kamu ketahui. Hal ini bukanlah musyrik, semuanya adalah simbol sebagai bentuk ungkapan kebahagiaan dari pasangan pengantin.

  1. Lelayu atau kematian

Kewajiban umat Islam terhadap orang Islam yang meninggal ada empat yaitu memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkan. Keempat ini harus segera dikerjakan agar si mayit merasa tenang dialamnya.

Tradisi di Indonesia ketika ada kematian atas seorang Islam, maka akan diadakan pembacaan talqin dan tahlil. Hal ini bertujuan untuk mendoakan agar arwah yang meninggalkan dunia selamat dan diterima disisi-Nya. Tradisi selanjutnya adalah menyelenggarakan upacara selamatan atau mendoakan pada waktu tertentu, seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari sampai 1000 harinya. Tradisi ini oleh para ulama’ diselaraskan dengan agama Islam. Pada upacara selamatan biasanya hanya duduk-duduk, minum dan makan-makan, maka setelah Islam datang ditambah dengan memperdengarkan ayat Al- Qur’an, dzikir-dzikir kepada Allah swt. Maksud dan tujuannya adalah untuk menghibur keluarga dan mendoakan mayyit. Kamu harus mengetahui bahwa kewajiban mendoakan saudara bukan yang masih hidup saja tetapi yang sudah meninggal pun harus didoakan.Sedangkan dalam tradisi ziarah juga mengalami perpaduan, orang Islam pergi ziarah hanya mendoakan mayit, sedangkan dalam tradisi jawa kuno menggunakan bunga atau sesaji lainnya.

  1. Kelahiran

Tradisi kelahiran di Jawa ada istilah ngapati, mitoni . artinya upacara itu diadakan ketika kandungn seorang wanita mencapai umur 4 bulan. Dalam upacara 4 bulan seorang wanita melakukan adat siraman untuk melindung bayi dan ibunya. Hal ini adalah kepercayaan dalam adat Jawa, namun Islam mengikuti tradisi ini karena pada saat kandungan 4 bulan itulah calon bayi akan ditiupkan rohnya oleh Allah swt, dan ditentukan takdirnya baik rejeki, jodoh dan kematiannya. Sehingga pada tradisi 4 bulanan ini diadakan sedekah dan pembacaan doa-doa atau dibacakan ayat suci al- Qur’an.

Kemudian pada usia kandungan 7 bulan, masa ini adalah masa dimana kandungan sudah siap untuk menerima segala proses kehidupan di dunia. untuk itulah diadakan tradisi pembagian sedekah, karena sedekah adalah salah satu cara untuk menolak balak. Berikutnya ketika bayi sudah lahir diadakan upacara sepasaran atau lima hari, dengan tujuan untuk keselamatan bayi dan membagikan masakan kudapan kepada tetangga. Dalam Islam sebelum makanan dibagikan ada tradisi membacakan doa. Setelah itu pada hari ke tujuhnya diadakan akikah, hal ini bersumber dari ajaran Islam. Akikah artinya menyembelih hewan kambing untuk anak yang baru saja dilahirkan. Sampai sekarang masih banyak masyarakat yang memegang tradisi perpaduan Islam dan Hindu. Hal ini tidaklah mengapa, karena sekali lagi masyarakat jawa terkenal dengan simbol-simbol yang dapat melambangkan makna kehidupan yang sejati. Hal ini bukanlah bentuk kemusyrikan. Karena tradisi tersebut adalah upaya untuk menyiarkan Islam secara damai.

Sebagai generasi Islam yang bijaksana, kamu seharusnya bersikap toleransi dan menghargai kepercayaan orang lain. Jika orang lain beribadah kepada Allah swt melalui sarana yang demikian serta tidak ada dalil yang secara khusus menyatakan tentang larangan perbuatan tersebut maka kamu harus menghormatinya. Jika kamu tidak sependapat dengan tradisi tersebut, kamu tidak perlu mencelanya atau menganggap pelaku tradisi tersebut musyrik dan lain sebagainya. Karena tentunya kamu semua pasti masuk surga. Langkah yang harus kamu ambil adalah sikap toleransi dan tetap teguh kepada keyakinan yang kamu miliki. Karena banyak sekali jalan menuju pendekatan diri kepada Allah swt.

Masjid yang terletak di dekat makam Sunan Kudus atau Syeikh Ja’far Sadiq merupakan masjid yang juga berfungsi sebagai makam keluarga. Pintu gerbang masuk ke masjid adalah perpaduan yang indah antara budaya hindu dan Islam. Walaupun menara berbentuk sebagai bangunan Hindu, namun sudah difungsikan sebagai menara untuk azan atau mengumumkan sesuatu kepada masyarakat. Sunan Kudus tidak perlu mengubah secara total bangunan Hindu tersebut. Beliau hanya memadukan seni dalam Islam dan bangunan Hindu yang sudah ada. Sampai sekarang peninggalan sejarah tersebut masih ada dan terawat dengan baik.

referensi : https://rohissmpn14depok.wordpress.com/kbm-pai/tradisi-islam-di-nusantara/

Tradisi lokal yang bernafaskan Islam

Tradisi lokal yang bernafaskan Islam

Banyak tradisi-tradisi lokal bangsa Indonesia sudah mengandung nilai-nilai keislaman. Diantara tradisi-tradisi tersebut adalah :

1. Penanggalan hijriyah

Masuknya agama Islam ke Indonesia, secara tidak langsung membawa pengaruh pada sistem penanggalan. Agama Islam menggunakan perputaran bulan, sedangkan kalender sebelumnya menggunakan perputaran matahari. Perpaduan antara penanggalan Islam dengan penanggalan jawa adalah sebagai berikut :

No Nama bulan dalam Islam Nama bulan dalam Jawa
1 Muharram Sura
2 Safar Sapar
3 Rabiul awwal Mulud
4 Rabiul akhir Ba’da mulud
5 Jumadil awal Jumadil awal
6 Jumadil akhir Jumadil akhir
7 Rajab Rajab
8 Sya’ban Ruwah
9 Ramadhan Pasa
10 Syawal Syawal
11 Zulqaidah Kapit
12 Zulhijjah Besar

2. Mauludan

Setiap bulan Rabi’ulawwal tahun Hijriyah, sebagian besar umat Islam Indonesia menyelenggarakan acara mauludun. Maksud dari acara tersebut adalah untuk mengenang hari kelahiran Rasulullah saw. Dalam acara tersebut diadakan pembacaan sejarah hidup Nabi Muhammad saw melalui kitab Al- Barzanji atau Situddurar. Puncak acara biasanya terjadi pada tanggal 12 rabiulawwal, dimana tanggal tersebut Rasulullah saw dilahirkan. Di Aceh tradisimauludun adalah sebagai pengganti upeti atau pajak bagi kerajaan Turki, karena Kerajaan Aceh memiliki hubungan diplomasi yang baik dengan Turki.

3. Grebek

Tradisi untuk mengiringi para raja atau pembesar kerajaan. Grebek pertama kali diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwana ke-1. Grebek dilaksanakan saat Sultan memiliki hajat dalem berupa menikahkan putra mahkotanya. Grebek di Yogyakarta di selenggarakan 3 tahun sekali yaitu : pertama grebek pasa, syawal diadakan setiap tanggal 1 Syawal bertujuan untuk menghormati Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadr,kedua grebek besar, diadakan setiap tanggal 10 dzulhijjah untuk merayakan hari raya kurban dan ketiga grebek maulud setiap tanggal 12 Rabiul awwal untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad saw. Selain kota Yogyakarta yang menyelenggarakan pesta grebek adalah kota Solo, Cirebon dan Demak.

4. Sekaten

Sekaten adalah tradisi membunyikan musik gamelan milik keraton. Pertama kali terjadi di pulau Jawa. Tradisi ini sebagai sarana penyebaran agama Islam yang pada mulanya dilakukan oleh Sunan Bonang. Dahulu setiap kali Sunan Bonang membunyikan gamelan diselingi dengan lagu-lagu yang berisi tentang agama Islam serta setiap pergantian pukulan gamelan diselingi dengan membaca syahadatain. Yang pada akhirnya tradisi ini disebut dengan sekaten. Maksud dari sekaten adalah syahadatain.

Sekaten juga biasanya bersamaan dengan acara grebek maulud. Puncak dari acara sekaten adalah keluarnya sepasang gunungan dari Masjid Agung setelah didoakan oleh ulama’-ulama’ keraton. Banyak orang yang percaya, siapapun yang mendapatkan makanan baik sedikit ataupun banyak dari gunungan itu akan mendapatkan keberkahan dalam kehidupannya. Beberapa hari menjelang dibukanya sekaten diselenggarakan pesta rakyat.

5. Selikuran

Maksudnya adalah tradisi yang diselenggarakan setiap malam tanggal 21 Ramadhan. Tradisi tersebut masih berjalan dengan baik di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Selikuran berasal dari kata selikur atau dua puluh satu. Perayaan tersebut dalam rangka menyambut datangnya malam lailatul qadar, yang menurut  ajaran Islam lailatulqadar hadir pada 1/3 terakhir bulan ramadhan.

6. Megengan atau Dandangan

Upacara untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kegiatan utamanya adalah menabuh bedug yang ada di masjid sebagai tanda bahwa besok hari sudah memasuki bulan Ramadhan dan semua wajib melaksanakan puasa. Upacara tersebut masih terpelihara di daerah Kudus dan Semarang.

7. Pesta Tabot

Upacara untuk memperingati gugurnya Husen bin Ali ra. Husein gugur saat mempertahankan haknya sebagai pewaris tahta ayahnya yang pro pada khalifah Ali bin Abi Thalib. Pesta tabuik diselenggarakan di Sumatera dengan pertunjukan berbentuk prosesi benda ritual.

8. Suranan

Suranan dalam penanggalan Islam adalam bulan Muharam. Pada bulan tersebut masyarakat berziarah ke makam para wali. Selain itu mereka membagikan makanan khas berupa bubur sura yang melambangkan tanda syukur kepada Allah swt.

referensi : https://rohissmpn14depok.wordpress.com/kbm-pai/tradisi-islam-di-nusantara/

Seni kaligrafi

Ditunjukkan dalam bentuk hiasan yang berbentuk manusia atau hewan yang bertuliskan arab. Dalam kaligrafi tersebut selain diperindah bentuknya, juga berisi tentang kalimah-kalimah suci yang menyangkut tentang Tauhid. Perkembangan hasil kesenian pada masa kerajaan Islam baik di Jawa maupun di luar Jawa menunjukkan bahwa melalui aspek-aspek tersebut proses islamisasi dapat diterima secara damai. Karya sastra juga ikut mewarnai perkembangan Islam di Indonesia. Seni sastra yang berkembang dipengaruhi oleh hasil budaya dari Persia dan seni sastra pra-Islam. Karya sastra pada masa kerajaan Islam adalah Hikayat, babad, syair dan suluk.

Hikayat berisi tentang cerita atau dongeng tentang peristiwa yang menarik dan hal yang tidak masuk akal. Diantara hikayat yang terkenal adalah hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat 1001 malam, Hikayat Bayan Budiman dan lain-lain. Sedangkan babad adalah tulisan yang menyerupai sejarah, namun isinya tidak selalu berdasarkan fakta. Babad merupakan campuran antara fakta sejarah, mitos dan kepercayaan. Contoh babad adalah Babad Tanah jawi, Babad Cirebon, Babad Mataram dan Babad Surakarta.

Lanjutkan membaca Seni kaligrafi

Seni Bangunan

Peninggalan Islam yang berupa fisik adalah arsitektur bangunan masjid, seni ukir dan seni kaligrafi. Masjid yang di bangun di Indonesia tidak serta merta melambangkan keislaman. Arsitektur yang digunakan adalah perpaduan antara Islam dan Hindu atau Jawa. Diantara bangunan masjid yang memadukan dua unsur tersebut adalah :

Arsitektur Masjid

Pada masjid agung Demak bentuk atapnya memiliki ciri atap yang berbentuk tumpang. Atap tersebut tersusun ke atas semakin kecil dan tingkat teratas disebut dengan limas. Jumlah tumpang biasanya gasal. Bentuk masjid seperti ini disebut dengan meru. Masjid lain yang memiliki corak hampir sama dengan masjid Demak adalah Masjid Agung Banten, Masjid Raya Baiturrahman dan masjid Ternate. Berbeda dengan masjid Kudus, dimana menara masjid Kudus memiliki ciri khas Hindu sangat kuat dan tercermin dari bentuk menara seperti candi.

Makam-makam para Raja

Hasil seni bangunan lainnya dapat terlihat dengan jelas pada bentuk makam-makam para tokoh Islam di berbagai tempat. Di beberapa wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera terdapat nisan yang terpengaruh oleh adat setempat. Pengaruh budaya arab dapat terlihat dari beaneka ragam hiasan pada nisan. Selain itu, bentuk gapura makam para Sunan atau tokoh Islam lainnya berbentuk Candi bentar atau kori agung merupakan corak pintu yang dikenal pada zaman sebelum Islam ke Indonesia.

referensi : https://rohissmpn14depok.wordpress.com/kbm-pai/tradisi-islam-di-nusantara/

Suluk

Suluk adalah tulisan dalam bahasa jawa dengan huruf jawa maupun huruf arab yang berisikan pandangan hidup masyarakat jawa. Suluk berisi ajaran kebatinan masyarakat jawa yang berpegang teguh pada tradisi jawa dan unsur-unsur Islam.

Suluk sewelasan tergolong ritual yang sudah langka dalam tradisi budaya Islam di Jawa. Berbagai bentuk seni budaya Islam yang berkembang di Jawa tak terdapat di Arab sana Tradisi yang dibawa dari Persia ini untuk memperingati hari lahir Syekh Abdul Qadir Jaelani, tokoh sufi dari Baghdad, Irak, yang jatuh pada tanggal 11 (sewelas). Suluk dalam bahasa Jawa dan Arab, terdiri dari salawat dan zikir—zikir zahir (fisik) dan zikir sirri (batin). Ketika zikir mereka terdengar mirip dengungan, orang-orang itu seperti ekstase. Jari tangan tak henti memetik butir tasbih. Ketika jari berhenti, zikir dilanjutkan di dalam batin. Pada titik ini terjadi ”penyatuan” dengan Yang Maha Esa. Lewat suluk ini akan mempertebal keyakinan kepada Allah swt.

referensi : https://rohissmpn14depok.wordpress.com/kbm-pai/tradisi-islam-di-nusantara/

Tari Zapin

Tari Zapin adalah sebuah tarian yang mengiringi musik qasidah dan gambus. Tari Zapin diperagakan dengan gerak tubuh yang indah dan lincah. Musik yang mengiringinya berirama padang pasir atau daerah Timur Tengah. Tari Zapin biasa dipentaskan pada upacara atau perayaan tertentu misalnya : khitanan, pernikahan dan peringatan hari besar Islam lainnya.

referensi :https://rohissmpn14depok.wordpress.com/kbm-pai/tradisi-islam-di-nusantara/

Kesenian Debus

Kesenian debus difungsikan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah. Oleh karena itu, debus merupakn seni bela diri untuk memupuk rasa percaya diri dalam menghadapi musuh.

Pengertian lain dari debus adalah gedebus atau almadad yaitu nama sebuah benda tajam yang digunakan untuk pertunjukan kekebalan tubuh. Benda ini terbuat dari besi dan digunakan untuk melukai diri sendiri. Karena itu kata debus juga diartikan dengan tidak tembus. Filosofi dari kesenian ini adalah kepasrahan kepada Allah swt yang menyebabkan mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi bahaya, seperti yang dilambangkan dengan benda tajam dan panas.

referensi : https://rohissmpn14depok.wordpress.com/kbm-pai/tradisi-islam-di-nusantara/

Qasidah

Qasidah artinya suatu jenis seni suara yang menamilkan nasehat-nasehat keislaman. Dalam lagu dan syairnya banyak mengandung dakwah Islamiyah yang berupa nasehat-nasehat, shalawat kepada Nabi dan do’a-do’a. Biasanya qasidah diiringi dengan musik rebana. Kejadian pertama kali menggunakan musik rebana adalah ketika Rasulullah saw disambut dengan meriah di Madinah.

referensi : https://rohissmpn14depok.wordpress.com/kbm-pai/tradisi-islam-di-nusantara/